Thursday, 2 September 2021

KEHADIRAN ORANG KETIGA DI FAMILY ROOM

Kesan apa yang ditinggalkan saat mendengar Family Room? Tentunya sebuah keluarga yang harmonis. Tidak ada sekat yang menjadi jarak satu sama lain. Seperti yang tergambar dalam foto keluarga, masing-masing menyunggingkan senyum sebagai simbol kebahagiaan.

Namun tidak demikian yang ditemukan penonton sejak adegan pertama Family Room. Sepasang suami istri setengah baya yang masuk ke rumah sudah memberikan ekspresi wajah yang berbeda. Kejanggalan bisa dengan cepat ditemukan saat si istri mengingatkan suaminya untuk menutup pintu. Seolah suami sering melewatkan sesuatu yang menjadi tradisi keluarga.

Suami yang diperankan oleh Muhary Wahyu Nurba menunjukkan karakter yang lebih ramah. Setiap kali berbicara selalu disertai dengan senyum, seolah telah melakukan sebuah kesalahan besar dan berusaha ingin memperbaikinya.

Sementara istrinya yang diperankan oleh Pipien Putri menunjukkan karakter sedang memendam emosi. Bicaranya pun terdengar ketus, dan sering berlawanan dengan suaminya. Istri ingin menunjukkan pada pasangannya, bahwa sudah banyak sekali hal yang terlewatkan karena ketidak hadirannya dalam keluarga.

Kisah ini bisa dibilang cukup ringan untuk ditonton dengan tidak menyuguhkan adegan yang rumit. Pernyataan terakhir yang berbunyi, “90 persen perseraian di Indonesia disebabkan poligami” terkesan menyentil para kaum adam yang pro poligami.

Tak ada alasan lain yang bisa ditolerir sehingga perbedaan prinsip yang disampaikan suami terkesan seperti dibuat-buat. Layaknya kebanyakan anak ABG yang memutuskan hubungan dengan pacarnya karena sudah mulai bosan.

Pernikahan yang sudah berjalan selama dua puluh lima tahun seharusnya sudah ada sinkronisasi yang terbentuk dari masing-masing pasangan. Namun faktanya, keinginan untuk menikah lagi cenderung seperti pemuasan ego secara sepihak saja.

Tidak semua orang mampu mengemban kata adil yang dijadikan syarat pernikahan. Sehingga pihak perempuan yang tersisih lebih memilih perpisahan sebagai jalan keluar. Family Room layaknya pengingat, bahwa praktek poligami tak semudah yang kelihatannya. Kata adil yang didengungkan juga tak semudah yang diucapkan, karena kebutuhan yang paling mendasar seperti berdo’a sebelum makan atau sholat berjama’ah saja sering lupa dipraktekkan.

Foto keluarga dengan ukuran besar menempel di dinding, hanya seperti simbol saja bahwa pemilik rumah pernah hidup harmonis dan bahagia. Ada suami, istri beserta kedua anak mereka, laki-laki dan perempuan. Tidak hanya orangtua yang tersenyum, tapi juga kedua anaknya yang pernah mencicipi kebahagiaan selama dua puluh lima tahun.

Kejanggalan pun semakin terlihat jelas, meski tidak dijelaskan secara verbal, dialog sepasang suami istri lebih banyak tidak sinkron. Suami yang berusaha memperbaiki keadaan terlihat seperti salah tingkah, karena kesalahan yang dilakukannya sudah terlalu besar.

Istri yang menceritakan pengorbanannya selama dua puluh lima tahun, membuatkan masakan kesukaan suami walaupun sebenarnya dia tak menyukainya. Si istri juga membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum menjawab pertanyaan suaminya yang menawarkan bantuan.  

Si suami berusaha mencari ke setiap sisi dapur, hanya untuk menemukan bumbu namun tak berhasil juga. Ada kemungkinan, suami memang jarang di rumah sehingga tidak mengenal setiap sisi di rumahnya. Kemungkinan lain, suami memang tidak pernah membantu istrinya memasak sehingga tidak mengetahui dengan baik di mana letak bumbu dapurnya.

Adegan berikutnya menunjukkan kedatangan anak laki-laki yang membawa pulang calon istrinya. Tidak adanya kedekatan suami di tengah keluarga semakin terlihat jelas. Saat anak laki-laki menanyakan keberadaan adiknya, si suami terdengar asal menjawab pertanyaan anaknya. Suami juga terkesan ingin menunjukkan bawah hubungannya dengan anggota keluarga yang lain terlihat baik-baik saja. Walaupun sebenarnya tidak.

Bertolak belakang dengan si istri yang mengetahui dengan baik keadaan anak-anaknya. Bahasa tubuhnya menunjukkan kedekatan yang sebenarnya antara orangtua dan anak. Bahkan si anak perempuan juga terlihat memendam kemarahan yang dalam pada ayahnya. Sehingga membuatnya menolak duduk berdekatan dan mengabaikan perintah ayahnya. Ada jurang yang dalam memisahkan kehidupan suami dengan anak istrinya.

Ego si suami juga tampak jelas saat memotong pembicaraan anak laki-lakinya. Suasana yang dibuat akrab, berubah seketika saat si suami mengumumkan rencana perceraian dengan istrinya. Alasan yang disampaikan tidak hanya melukai istri tapi juga anak-anaknya. Dua puluh lima tahun adalah waktu yang panjang untuk saling instrospeksi diri, tapi mereka memilih menyerah pada perbedaan.

Terlepas dari pro dan kontra, Family Room hanya menyajikan fakta. Tidak ada adegan yang rumit, namun konfliknya sangat sensitif sehingga dengan mudah menarik empati kaum hawa. Konsep poligami tidak hanya melukai pihak perempuan sebagai korban tapi juga anak jika para pelakunya tidak siap. Alangkah baiknya konsep poligami ini benar-benar dipahami agar tidak ada pihak yang tersakiti sehingga berujung pada perceraian.

 

No comments:

Post a Comment

Sebelum Mencicipi Kematian : Tranformasi Budi Si Korban Bullying

Sebelum Mencicipi Kematian merupakan sebuah kisah yang diawali dengan adegan perundungan. Budi merupkan anak tunggal yang dominan mendapa...