Saturday, 11 September 2021

Infodemik, Masyarakat Wajib Tahu

Pandemi COVID-19 tidak hanya berkaitan dengan persebaran virus yang menular secara cepat. Tapi juga diikuti dengan persebaran masif informasi baik yang akurat maupun yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga akhirnya berdampak pada kebingungan masyarakat. WHO menyebut fenomena ini dengan infodemik. Hal ini berdampak besar pada konsumer media untuk mendapatkan panduan informasi yang dapat dipercaya dan kredibel.

Infodemik tidak hanya berkaitan dengan persebaran masif berita hoaks. Namun berkaitan juga dengan diseminasi informasi yang tidak sinkron. Informasi yang membingungkan ini dikeluarkan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius untuk diatasi, karena berdampak pada tepat tidaknya individu dan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan dan berperilaku ditengah pandemi.

Masyarakat yang hidup di masa pandemi COVID-19 di mana era digital begitu canggih. Informasi dari berbagai sumber bisa didapatkan dengan mudah melalui internet. Berdasarkan laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social yang dirilis pada Februari 2021 menunjukkan 61,8% masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Orang Indonesia rata-rata memiliki durasi penggunaan media sosial selama 3 jam per harinya.

Penggunaan media sosial yang begitu masif di masa pandemi COVID-19 menimbulkan informasi yang salah dapat menyebar lebih cepat dibandingkan faktanya. Fenomena ini disebut dengan infodemik. Untuk melawan infodemik, platform digital harus dibuat lebih akuntable, mis/ disinformasi dilacak dan diverifikasi oleh pihak yang berwenang. Selain itu perlu adanya gerakan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) mengeluarkan data bahwa jumlah hoaks kesehatan meningkat dari 7% (86 hoaks dalam setahun pada 2019) menjadi 56% (519 hoaks dalam setengah tahun pada 2020). Sementara jumlah hoaks COVID-19 yang diklarifikasi oleh MAFINDO adalah sejumlah 492 hoaks (94,8%) dari total hoaks kesehatan selama enam bulan pertama tahun 2020. Kementrian Kominfo pusat juga mencatat 1.471 hoaks terkait COVID-19 yang tersebar diberbagai media hingga 11 Maret 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survey terkait perilaku masyarakat di masa pandemi COVID-19 pada September 2020. Hasil survey menyatakan 17 dari 100 responden masyarakat sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular COVID-19. Kelompok populasi usia 17-30 tahun menempati persentase tertinggi yang menyatakan sangat tidak mungkin atau tidak mungkin terikfeksi COVID-19. Sedangkan semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin meyakini bahwa COVID-19 berbahaya dan mudah menular.

Sedangkan International Journal of Public Health Science pada 2020 menyatakan hanya 11,3% responden (n=382 orang) yang menganggap diri mereka kemungkinan besar tertular COVID-19. Mis/ disinformasi kesehatan tentu akan membawa dampak buruk, antara lain sebagai berikut :

1.      Menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat

2.      Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, otoritas kesehatan dan ilmu pengetahuan (sains)

3.      Demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan

4.      Sikap apatis yang memiliki konsekuensi besar karena berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat, seperti membahayakan kesehatan, bahkan sampai menimbulkan resiko kematian

Tidak cukup dengan memiliki kemampuan literasi digital yang baik, anda juga harus memiliki kemampuan dasar cek fakta kesehatan, antara lain sebagai berikut :

1.      Cek sumber aslinya. Anda harus melakukan cek siapa yang membagikan informasi dan darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Bahkan sumber informasi harus tetap diperiksa walaupun berasal dari teman atau keluarga.

2.      Jangan hanya baca judulnya. Judul sebuah informasi mungkin saja dibuat sensasional atau provokatif untuk mendapatkan jumlah klik yang tinggi.

3.      Identifikasi penulis. Anda bisa menelusuri nama penulis secara online untuk melihat apakah penulis adalah seseorang yang nyata dan kredibel.

4.      Cek tanggal. Anda harus memeriksa apakah informasi tersebut merupakan informasi terbaru. Anda juga harus memeriksa apakah sudah up to date dan relevan dengan kejadian terkini. Judul, gambar atau statistik harus diperiksa juga apakah sudah sesuai dengan konteks.

5.      Cek bukti pendukung lain. Cerita yang kredibel selalu mendukung klaim dengan fakta.

6.      Cek bias. Perlu diketahui bahwa bias pribadi akan mempengaruhi penilaian anda terhadap hal yang dapat dipercaya atau tidak.

7.      Cek organisasi pemeriksa fakta. Anda perlu melakukan cek berita yang ditemukan dengan tulisan atau temuan yang sudah diverifikasi oleh organisasi pemeriksa fakta baik dalam lingkup nasional, seperti Cek Fakta Tempo atau media nasional lainnya. Sedangkan untuk lingkup internasional bisa diverifikasi melalui AFP factcheck dan Washington Post factcheckers.

Sedangkan tools dan teknik dasar yang diperlukan untuk memeriksa seputar klaim kesehatan, antara lain :

1.      Sumber referensi yang terpercaya seperti website resmi institusi atau organisasi (Badan Kesehatan Dunia/ WHO), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS/ CDC, Kementrian Kesehatan, Badan POM, Ikatan Dokter Indonesia/ IDI, Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia/ IAKMI dan jurnal ilmiah seperti, The New England Journal of Medicine, The British Medical Journal, Nature Medicine, The Lancet).

2.      Studi peer- review dan pre-print. Peer-review merupakan studi penelitian melewati proses evaluasi oleh tim pakar independen dari bidang keilmuan yang sama. Peer-review umumnya dianggap sebagai gold standard dalam studi ilmiah. Sedangkan pre-print belum melewati proses peer-review.

3.      Studi korelasi dan hubungan sebab akibat. Studi korelasi mengukur derajat keeratan atau hubungan korelasi antara dua variabel. Sedangkan studi hubungan sebab akibat untuk meneliti pola kausalitas dari sebuah variabel terhadap variabel lain.

Setelah memiliki kemampuan dasar dan tools yang bisa digunakan dengan hasil yang akurat, diharapkan masyarakat bisa lebih bijak dalam menanggapi informasi yang ada. Kepedulian masyarakat yang semakin luas diharapkan bisa menjadi cara yang paling efektif untuk mencegah adanya arus informasi yang tidak akuntable.


 

No comments:

Post a Comment

Lubang Anggrek - Bulan

How Deep The Hole Goes sebuah film drama yang cukup berat. Bunga yang digambarkan sebagai tokoh utama menjadi penyebab terjadinya sebuah t...