Wednesday, 29 September 2021

Lubang Anggrek - Bulan


How Deep The Hole Goes sebuah film drama yang cukup berat. Bunga yang digambarkan sebagai tokoh utama menjadi penyebab terjadinya sebuah tragedi yang mengakibatkan banyak sekali korban. Bunga digambarkan sebagai anak seseorang yang sangat berpengaruh di kotanya, sehingga bisa terbebas dari hukuman.

Tanpa sepengetahuan sang papa, ternyata Bunga memiliki trauma masa lalu. Setelah keluar dari penjara, Bunga mulai menggali lubang yang bisa menghubungkan dirinya, masa lalu dan keluarga. Dalam film ini, Bunga digambarkan memiliki kedekatan dengan mamanya. Bunga juga sering membawa anggrek putih sebagai simbul dirinya, sehingga saat vas bunga di meja makan diambil Bunga menjadi tersinggung.

Bunga yang dianggap sebagai penyebab kematian korban tragedi, mengalami depresi yang cukup berat. Orang yang dianggap bisa menenangkan  dirinya, dalam hal ini mamanya, sudah meninggal. Bunga merasa tak memiliki pegangan lagi karena sang papa, satu-satunya keluarga yang tersisa cenderung menekannya.

Sebuah adegan menggambarkan Bunga yang sedang menangis karena teringat mamanya. Kemudian muncul figura yang menyimpan foto keluarga saat bunga masih kecil, menunjukkan kebahagiaan keluarga di masa lalu. Ketidak hadiran sang ayah membuat Bunga mencari penghiburan lain untuk menebus rasa bersalah.

Perilaku ini biasa dilakukan oleh penderita depresi mayor. Bunga merasakan sedih yang berlebihan, tidak tertarik pada hal-hal yang dulu sering membuatnya ceria. Bunga juga merasa bersalah dan berusaha menebus kesalahannya dengan menemui keluarga para korban. Tentunya niat Bunga ini tidak akan berjalan dengan mudah.

Depresi merupakan masalah kejiwaan serius yang dapat membuat fungsi otak terganggu dan merusak jaringan otak. Dampak depresi yang tidak diobati dengan tepat dapat menimbulkan berbagai masalah pada otak, antara lain sebagai berikut :

1.       Ukuran otak menyusut

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa depresi bisa membuat ukuran otak pada area tertentu menyusut. Penyusutan ini tergantung pada seberapa lama depresi itu terjadi dan tingkat keparahan depresi.

2.       Terbatasnya pasokan oksigen ke otak

Berbagai studi juga menunjukkan bahwa depresi berkaitan dengan hipoksia, kurangnya kadar oksigen pada tubuh, yang dapat merusak jaringan dan sel tubuh. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini dapat menyebabkan jumlah oksigen di organ tubuh berkurang, termasuk di otak.

3.       Peradangan pada otak

Meski masih butuh penelitian lagi, depresi dipercaya memiliki keterkaitan dengan peradangan pada otak yang menyebabkan sel-sel otak mati dan menurunkan kinerja serta fungsi otak. Selain itu juga akan membuat aliran darah pada otak menjadi tidak lancar.

4.       Penuaan dini pada otak

Depresi jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan peradangan, kerusakan jaringan otak, dan menghambat kemampuan otak untuk memperbaiki jaringan dan sel otak yang rusak. Hal ini tentu bisa menyebabkan otak lebih cepat menua dan meningkatkan resiko demensia atau pikun.

Sebenarnya saya sendiri cukup kecewa saat menonton How Deep The Hole Goes, karena ending film ini dibiarkan menggantung. Penonton seolah dibiarkan mencari jawaban sendiri, benda apa yang terdapat di dalam lubang sehingga menjadi tempat tujuan Bunga untuk menabur anggrek bulan setiap kali merasakan terpuruk. Untuk mengobati penasaran, film berdurasi 23 menit ini masih bisa dinikmati di Genflix.

 

Darwin dan Segala Kecerdasannya


 

How to Act Like Hooman merupakan sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh empat orang mahasiswa yang berbeda negara. Keempat mahasiswa ini tidak saling mengenal sebelumnya dan baru pertama kali bertemu, namun ditantang untuk membuat film. Maka jadilah film yang mengambil latar di Sangeh, Bali.

Kisah ini mengusung tema keistimewaan yang berupa sebuah kesederhanaan. Karakter Darwin yang diperankan oleh seekor monyet tinggal bersama dengan ibunya di hutan Sangeh. Kegelisahan tentang hidup mandiri membuatnya pergi jauh dari ibunya dan mencoba hidup layaknya manusia.

Kejadian ini sebenarnya cukup wajar terjadi mengingat sebenarnya monyet juga memiliki kecerasan. Seperti temuan yang dilansir pada 19 Oktober 2016 yang menggenapi sinyalemen bahwa monyet (Macacus Synomolgus) punya kecerdasan. Tomos Profitt, seorang peneliti dari Oxford University  telah membuktikan selama melakukan riset di Taman Nasional Serra da Capivara, Brazil.

Profitt beserta timnya (Lydia V. Luncz, Tiago Falotico, Eduardo B. Ottoni, Ignacio de la Torre, dan Michael Haslam) dalam laporan penelitian yang diterbitkan oleh Nature, merekam monyet caphucin (jenis monyet berbulu coklat-kelabu pada sebagian tubuhnya)  yang sedang memecahkan batu.

Dalam How to Act Like Hooman, Darwin juga menunjukkan kecerdasannya dengan menirukan aktivitas manusia. Darwin berhasil menemukan cara untuk pergi ke kota. Walaupun berada di tempat yang asing, Darwin juga berusaha untuk tetap bertahan hidup. Tingkah laku berikutnya yang dilakukan untuk menunjukkan kecerdasan adalah saat Darwin hendak membeli makanan dan minuman.

Meski Darwin memiliki cara untuk bertahan hidup, tapi Darwin tetaplah monyet yang memiliki kekurangan. Kondisi fisik Darwin yang berupa monyet tidak mendapatkan kepercayaan dari manusia bahwa dia bisa membeli yang diinginkannya.

Di sini sifat asli Darwin muncul,  sifat hewan yang membutuhkan manusia dalam aktivitasnya. Darwin menemukan orang yang bisa membantunya membeli makanan dan minuman. Meski mendapatkan hidup yang serba modern, Darwin tetap tidak bahagia karena tidak bisa menikmati apa yang menjadi miliknya.

How to Act Like Hooman diperankan oleh Herry Bhaskara, I Kadek Jaya Wiguna, I Gusti Ngurah Gede Oka, Ida Bagus Dipayana, serta Monkeys in Sangeh Monkey Forest. Kisah yang berdurasi 9 menit 57 detik ini masih bisa disaksikan di Genflix.

Thursday, 16 September 2021

Sebelum Mencicipi Kematian : Tranformasi Budi Si Korban Bullying


Sebelum Mencicipi Kematian merupakan sebuah kisah yang diawali dengan adegan perundungan. Budi merupkan anak tunggal yang dominan mendapatkan didikan dari ibunya. Sering ditinggal bertugas oleh sang ayah yang berprofesi sebagai polisi, Budi tumbuh menjadi anak yang berhati lembut dan tidak suka kekerasan.

Ibunya banyak memberikan ajaran moral yang membuatnya menjadi anak yang patuh pada orangtua. Namun ajaran yang ditanamkan ini menjadi boomerang saat ibunya sudah meninggal. Budi yang baik hati dipandang lemah oleh teman-temannya. Lebih memilih pasrah setiap kali diperlakukan kasar karena teringat ajaran ibunya bahwa perbuatan buruk akan membawanya pada dosa. Sayangnya kondisi ini tidak sepadan dengan perlakuan teman-temannya, Budi yang lemah sering di-bully dan pulang dengan tubuh lebam.

Sementara ayahnya yang kini menjadi satu-satunya keluarga, tanpa sepengetahuannya sedang menderita sakit perut yang dulu merenggut nyawa ibunya. Tidak siap menghadapi kenyataan, menjadi masalah besar bagi keluarga tersebut. Kisah ini sebenarnya lebih banyak mengangkat konflik pribadi para tokohnya.

Gejala post power syndrom sang ayah yang diperankan oleh Indra Pacique membuat emosinya tidak stabil. Kecemasannya semakin bertambah saat penyakit perut mulai menyerang tubuhnya. Begitu juga dengan Budi yang diperankan oleh M. Danias Rezky Abdillah tidak memiliki power di depan teman-temannya menjadi masalah baru bagi keduanya. Keinginan ayahnya untuk mengubah Budi menjadi lebih kuat dalam waktu singkat tidak berjalan mulus. Ayah Budi mengajarkan pada anaknya untuk melawan temannya dengan kekerasan pula.

Memang tidak ada yang salah, sebagai orangtua untuk tidak membenarkan perbuatan memukul orang lain. Demikian juga dengan terus bersikap lembut dan patuh pada orangtua sebagai tolak ukut agar anak bisa disebut memiliki perangai baik. Dalam kehidupan sosial, ajaran ini akan membuat anak selalu mengalah pula pada teman-temannya. Meskipun begitu, ketatnya persaingan hidup di masa kini, kebiasaan mengalah pada orang lain memberikan dampak yang kurang baik pula.

Psikolog Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, M.HPEd menuturkan, sifat mengalah bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, mengalah merupakan salah satu ajaran orangtua. Dengan mengalah, kebaikan hati terhadap orang lain akan terasah sekaligus kemampuan menghindari masalah akan terasah.

Kebiasaan mengalah akan menghilangkan jiwa kompetitif anak. Anak menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Sikap ini akan membuatnya tertinggal dibandingkan orang lain. Bahkan si pengalah akan selalu mempersilakan orang lain untuk berjalan lebih dulu di depan.

Sifat pengalah yang kurang efektif diajarkan pada anak, membuat Rosdiana menyarankan pada orangtua melatih anak memiliki kebaikan hati. Orangtua melatih anak untuk memiliki niat baik pada orang lain serta memberikan bantuan pada mereka yang membutuhkan. Ajaran ini sebaiknya diikuti dengan bagaimana mengukur kemampuan diri. Sehingga saat memberikan bantuan, anak tidak memberatkan diri sendiri.

Anak yang tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan akan tumbuh menjadi anak yang positif, baik secara pemikiran maupun perbuatan. Sebagai tambahan, anak diajarkan berjuang untuk hidupnya. Latih anak untuk tidak mudah mendapatkan apa yang dinginkan.

Ajarkan bahwa dia harus berusaha untuk mendapatkan keinginannnya. Kemudian latih anak untuk bisa meyakinkan pada anda bahwa apa yang diinginkan itu sesuai dengan kebutuhan dan masuk akal. Satu hal lagi yang tidak kalah penting menurut Rosdiana, berpikir sebelum bertindak dan meninmbang segala kemungkinan.

Gabungan dari ketiga sifat, kebaikan hati, berusaha untuk mendapatkan keinginannya, dan berpikir sebelum bertindak akan membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa  yang mau berjuang untuk mendapatkan keinginannya dengan cara yang positif. Anak pun tahu kapan harus mengalah. Bukan untuk menghindari masalah atau mencari amannya saja, karena anak tahu bahwa orang lain lebih membutuhkan dan anak bisa mendapatkannya dengan cara yang lain.

Pada dasarnya perundungan atau bullying merupakan bentuk perilaku agresif yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang memiliki kekuatan lebih besar daripada korban. Perilaku perundungan bisa berupa tindakan fisik maupun verbal yang dilakukan secara berulang-ulang. Jika dibiarkan terlalu lama, hal ini tentu akan mempengaruhi korban secara psikis maupun mental.

Perundungan terhadap anak ini bisa terjadi pada siapa saja, berapa pun rentang usianya. Sebagai orangtua pasti akan merasa kesal dan sedih kalau anaknya menjadi korban tindakan yang tidak semestinya. Oleh sebab itu, orangtua perlu melakukan beberapa hal sebagai bentuk perlindungan terhadap anak.

Begitu juga dengan karakter ayah dalam film Sebelum Mencicipi Kematian. Si ayah ingin menyiapkan mental anak untuk menghadapi perilaku tidak baik dari teman-temannya. Kurangnya bonding  terhadap anak membuatnya kesulitan menemukan cara yang bijak untuk menanamkan sifat pemberani pada anak.

Sebelumnya memang sudah ada film dengan tema sejenis, namun dalam Sebelum Mencicipi Kematian penulis cerita menyuguhkan dengan cara yang berbeda. Kreator lebih menekankan pada konflik pribadi masing-masing karakter. Tanpa disadari konflik ini menyebabkan anak menjadi korban perundungan.

Kasus perundungan memang sudah sejak lama menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bahkan dalam kurun waktu sembilan tahun, dari 2011 sampai tahun 2019, ada sebanyak 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk perundungan baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat.

Menurut Jasra Putra, Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, fenomena kekerasan terjadi saat anak yang terbiasa menyaksikan cara kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Artinya anak tidak diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan dengan baik, namun memandang kekerasan sebagai cara penyelesaian.

Akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan anak, tidak hanya berupa luka fisik tapi juga secara psikis. Luka fisik bisa dicari obatnya, namun untuk luka batin tidak mudah dicari obatnya. Bahkan tidak kelihatan. Jasra Putra juga menuturkan, setelah peristiwa terjadi, kita dapat mengukur apa yang terjadi sebelumnya pada anak sehingga menjadi pelaku bullying.

Oleh karena itu, Jasra mengatakan bahwa semangat Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam melihat anak-anak yang melakukan kejahatan dalam hukum bukan sebagai subyek hukum, melainkan pasti ada penyebab penyertanya.

Pasal 9 Undang Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dalam ayat (1a) menyatakan setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan atau pihak lain.

Berdasarkan pasal diatas, perlindungan anak terhadap perundungan tidak cukup hanya dilakukan oleh orangtua dan guru konseling. Apalagi jika dibebankan juga dengan mengajar. Perlu adanya peran psikolog yang memiliki metode yang baik dalam membaca kejiwaan anak dengan metode menulis, menggambar, wawancara, dan pendekatan personal dalam menggambarkan kejiwaan anak-anak. Hal ini akan membantu guru konseling sebagai pihak sekolah maupun orangtua dalam menyelamatkan anak-anak dari perundungan.

Sebelum Mencicipi Kematian dikemas dengan setting yang sangat apik. Keseluruhan cerita pun bisa digambarkan dengan baik oleh karakter yang terbatas. Saat ini film yang berdurasi lima belas menit ini masih bisa disaksikan di Genflix.

 

 

Saturday, 11 September 2021

Infodemik, Masyarakat Wajib Tahu

Pandemi COVID-19 tidak hanya berkaitan dengan persebaran virus yang menular secara cepat. Tapi juga diikuti dengan persebaran masif informasi baik yang akurat maupun yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga akhirnya berdampak pada kebingungan masyarakat. WHO menyebut fenomena ini dengan infodemik. Hal ini berdampak besar pada konsumer media untuk mendapatkan panduan informasi yang dapat dipercaya dan kredibel.

Infodemik tidak hanya berkaitan dengan persebaran masif berita hoaks. Namun berkaitan juga dengan diseminasi informasi yang tidak sinkron. Informasi yang membingungkan ini dikeluarkan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu. Hal ini menjadi persoalan serius untuk diatasi, karena berdampak pada tepat tidaknya individu dan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan dan berperilaku ditengah pandemi.

Masyarakat yang hidup di masa pandemi COVID-19 di mana era digital begitu canggih. Informasi dari berbagai sumber bisa didapatkan dengan mudah melalui internet. Berdasarkan laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social yang dirilis pada Februari 2021 menunjukkan 61,8% masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Orang Indonesia rata-rata memiliki durasi penggunaan media sosial selama 3 jam per harinya.

Penggunaan media sosial yang begitu masif di masa pandemi COVID-19 menimbulkan informasi yang salah dapat menyebar lebih cepat dibandingkan faktanya. Fenomena ini disebut dengan infodemik. Untuk melawan infodemik, platform digital harus dibuat lebih akuntable, mis/ disinformasi dilacak dan diverifikasi oleh pihak yang berwenang. Selain itu perlu adanya gerakan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) mengeluarkan data bahwa jumlah hoaks kesehatan meningkat dari 7% (86 hoaks dalam setahun pada 2019) menjadi 56% (519 hoaks dalam setengah tahun pada 2020). Sementara jumlah hoaks COVID-19 yang diklarifikasi oleh MAFINDO adalah sejumlah 492 hoaks (94,8%) dari total hoaks kesehatan selama enam bulan pertama tahun 2020. Kementrian Kominfo pusat juga mencatat 1.471 hoaks terkait COVID-19 yang tersebar diberbagai media hingga 11 Maret 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survey terkait perilaku masyarakat di masa pandemi COVID-19 pada September 2020. Hasil survey menyatakan 17 dari 100 responden masyarakat sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular COVID-19. Kelompok populasi usia 17-30 tahun menempati persentase tertinggi yang menyatakan sangat tidak mungkin atau tidak mungkin terikfeksi COVID-19. Sedangkan semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin meyakini bahwa COVID-19 berbahaya dan mudah menular.

Sedangkan International Journal of Public Health Science pada 2020 menyatakan hanya 11,3% responden (n=382 orang) yang menganggap diri mereka kemungkinan besar tertular COVID-19. Mis/ disinformasi kesehatan tentu akan membawa dampak buruk, antara lain sebagai berikut :

1.      Menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat

2.      Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, otoritas kesehatan dan ilmu pengetahuan (sains)

3.      Demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan

4.      Sikap apatis yang memiliki konsekuensi besar karena berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat, seperti membahayakan kesehatan, bahkan sampai menimbulkan resiko kematian

Tidak cukup dengan memiliki kemampuan literasi digital yang baik, anda juga harus memiliki kemampuan dasar cek fakta kesehatan, antara lain sebagai berikut :

1.      Cek sumber aslinya. Anda harus melakukan cek siapa yang membagikan informasi dan darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Bahkan sumber informasi harus tetap diperiksa walaupun berasal dari teman atau keluarga.

2.      Jangan hanya baca judulnya. Judul sebuah informasi mungkin saja dibuat sensasional atau provokatif untuk mendapatkan jumlah klik yang tinggi.

3.      Identifikasi penulis. Anda bisa menelusuri nama penulis secara online untuk melihat apakah penulis adalah seseorang yang nyata dan kredibel.

4.      Cek tanggal. Anda harus memeriksa apakah informasi tersebut merupakan informasi terbaru. Anda juga harus memeriksa apakah sudah up to date dan relevan dengan kejadian terkini. Judul, gambar atau statistik harus diperiksa juga apakah sudah sesuai dengan konteks.

5.      Cek bukti pendukung lain. Cerita yang kredibel selalu mendukung klaim dengan fakta.

6.      Cek bias. Perlu diketahui bahwa bias pribadi akan mempengaruhi penilaian anda terhadap hal yang dapat dipercaya atau tidak.

7.      Cek organisasi pemeriksa fakta. Anda perlu melakukan cek berita yang ditemukan dengan tulisan atau temuan yang sudah diverifikasi oleh organisasi pemeriksa fakta baik dalam lingkup nasional, seperti Cek Fakta Tempo atau media nasional lainnya. Sedangkan untuk lingkup internasional bisa diverifikasi melalui AFP factcheck dan Washington Post factcheckers.

Sedangkan tools dan teknik dasar yang diperlukan untuk memeriksa seputar klaim kesehatan, antara lain :

1.      Sumber referensi yang terpercaya seperti website resmi institusi atau organisasi (Badan Kesehatan Dunia/ WHO), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS/ CDC, Kementrian Kesehatan, Badan POM, Ikatan Dokter Indonesia/ IDI, Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia/ IAKMI dan jurnal ilmiah seperti, The New England Journal of Medicine, The British Medical Journal, Nature Medicine, The Lancet).

2.      Studi peer- review dan pre-print. Peer-review merupakan studi penelitian melewati proses evaluasi oleh tim pakar independen dari bidang keilmuan yang sama. Peer-review umumnya dianggap sebagai gold standard dalam studi ilmiah. Sedangkan pre-print belum melewati proses peer-review.

3.      Studi korelasi dan hubungan sebab akibat. Studi korelasi mengukur derajat keeratan atau hubungan korelasi antara dua variabel. Sedangkan studi hubungan sebab akibat untuk meneliti pola kausalitas dari sebuah variabel terhadap variabel lain.

Setelah memiliki kemampuan dasar dan tools yang bisa digunakan dengan hasil yang akurat, diharapkan masyarakat bisa lebih bijak dalam menanggapi informasi yang ada. Kepedulian masyarakat yang semakin luas diharapkan bisa menjadi cara yang paling efektif untuk mencegah adanya arus informasi yang tidak akuntable.


 

Lubang Anggrek - Bulan

How Deep The Hole Goes sebuah film drama yang cukup berat. Bunga yang digambarkan sebagai tokoh utama menjadi penyebab terjadinya sebuah t...