Saturday, 28 August 2021

Informasi Ditumpangi Isu Menyesatkan? Telusuri dengan Cek Fakta Kesehatan


 

Saat ini kemudahan internet seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi penggunaan internet memberikan banyak kemudahan baik berupa penyajian informasi atau pun fasilitas lain sebagai bentuk kemudahan kebutuhan hidup sehari-hari. Internet memberikan kemudahan bagi siapapun untuk memproduksi dan mendistribusikan informasinya sendiri tanpa ada moderasi yang ketat. Hal ini yang menyebabkan banjir informasi yang berkembang sulit untuk dikendalikan.

Disisi lain semakin pesatnya distribusi informasi juga menyebabkan sirkulasi hoaks semakin cepat. Indonesia merupakan pengguna internet keempat terbesar di dunia, sayangnya tidak diikuti dengan literasi digital dengan baik. Sementara saat ini tingkat literasi Indonesia masih berada diurutan ke-70 di dunia. Sedangkan menurut Kominfo, indeks literasi digital Indonesia masih berada di angka sedang. Hal inilah yang menyebabkan pengguna internet belum bisa membedakan mana fakta dan hoaks.

Untuk mengurangi dampak arus informasi tersebut, Tempo mengadakan Workshop Cek Fakta Kesehatan sebagai salah satu kegiatan dari program Fellowship Global Health. Tidak hanya berupa pemberian teori saja, pelatihan  yang berlangsung selama dua hari ini juga disertai praktek menggunakan beberapa tools dalam mendukung proses verifikasi fakta. Adapun tujuan adanya workshop Cek Fakta Kesehatan, antara lain :

1.      Peserta dapat membedakan antara misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

2.      Peserta memahami penyebab dan dampak hoaks.

3.      Peserta dapat membedakan antara situs abal-abal dengan situs yang kredibel.

4.      Peserta dapat mengecek kebernaran sebuah foto dan video.

Salah satu yang menyebabkan sirkulasi hoaks yang semakin cepat karena adanya polarisasi terhadap politik. Fanatik yang berlebihan terhadap kelompok, calon, atau ideologi tertentu menjadi penyebab mengapa orang mudah termakan hoaks. Sementara penyebaran hoaks sendiri memiliki beberapa tujuan antara lain : jurnalisme yang lemah, untuk lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisanship, mencari duit lewat judul clikbait, gerakan politik dan propaganda. 


 

Adapun mis/ disinformasi sendiri ada 7 macam menurut standar First Draft, sebuah riset yang berfokus pada media di Amerika Serikat. Tujuh macam itu meliputi satire, konten menyesatkan, konten aspal, konten pabrikasi, konten nggak nyambung, konteks salah, dan konten manipulatif.

Sementara hoaks sendiri memberikan dampak polarisasi di tengah masyarakat seperti yang terjadi pasca Pilpres 2014/ 2019, kebencian berbasis SARA, dampak bagi penanganan bencana, dan penanganan pandemi Covid-19.  Saat ini pemerintah sendiri terus berupaya untuk menangani hoaks selama pandemi Covid-19. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mencatat dan melabeli 1.556 hoaks yang terkait dengan Covid-19 serta 177 hoaks terkait dengan vaksin.

Kabar seputar pandemi ini semakin mudah tersebar melalui media sosial maupun percakapan digital. Untuk itu, pemerintah tidak berhenti menghimbau masyarakat agar selalu merujuk pada sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Beberapa sumber informasi yang bisa menjadi acuan dan dapat dipercaya, antara lain : Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), situs pemerintah seperti Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Kementerian Kesehatan, kementerian/ lembaga terkait, para ahli dibidangnya dan media massa yang kredibel.

Sedangkan menurut laporan yang didukung oleh Google News, lebih dari 50 ribu cek fakta baru muncul di mesin pencarian Google Search selama satu tahun terakhir. Dalam  laporan ini, tiga peneliti  yakni Ethan Porter, Thomas Wood, dan Yamil Velez, menemukan bahwa koreksi dalam bentuk cek fakta dapat mengurangi efek misinformasi pada kepercayaan masyarakat seputar vaksin Covid-19. Cek fakta ini tidak hanya untuk kalangan profesional, ornag biasa juga bisa mencari bukti untuk mengkonfirmasi atau menyangkal informasi yang mereka ragukan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kominfo terdapat 900 ribu situs penyebar hoaks. Adapun tips yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi situs abal-abal, antara lain :

·         Cek alamat situsnya

Alamat situs yang meragukan bisa dilakukan pengecekan melalui sejumlah situs, salah satunya who.is dan domainbigdata.com. Ada pula situs abal-abal yang cuma beralamat di blogspot.

·         Cek data perusahaan media di Dewan Pers

Pengecekan terhadap perusahaan media bisa dilakukan melalui direktori Dewan Pers, melalui situs https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers. Namun perlu diketahui pula bahwa ada beberapa media kredibel yang tidak memiliki badan hukum.

·         Cek detail visual

Ada situs abal-abal yang gambar logonya menyaru mirip situs media mainstream, namun tentu pembuatan gambar logonya tak sebagus milik media aslinya. 

·         Waspada apabila terlalu banyak iklan

Media abal-abal biasanya sekedar mencari klik untuk mendapatkan iklan. Perlu hati-hati jika mendapati website dengan yang disertai banyak iklannya.

·         Bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream

Perlu diperhatikan sejumlah ciri yang menjadi pakem khas jurnalistik pada media mainstream. Misalnya : nama penulisnya jelas, cara menulis tanggal di badan berita, hyperlink-nya yang disediakan mengarah ke mana, narasumbernya kredibel atau tidak, dan lain-lain.

·         Cek About Us

Cek About Us yang ada di laman situs media. Media abal-abal selalu anonim.

ü  Sesuai UU Pers : berbadan hukum dan ada penanggung jawabnya. Cek, ada alamat yang jelas dan siapa saja orang-orangnya.

ü  Mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

·         Waspada dengan judul-judul sensasional

Hati-hati jika mendapati judul-judul yang terlalu sensasional. Alangkah baiknya jika membaca berita sampai selesai. Jangan hanya membaca judul kemudian komen di media sosial.

·         Cek ke situs media mainstream

Cek untuk memastikan bahwa informasi yang dimuat sebuah situs non-mainstream layak dipercaya atau tidak. Pengecekan ini bisa dilakukan ke situs media mainstream. Selain itu penting untuk melakukan verifikasi untuk memastikan sumber pertama dan melihat konten aslinya.

·         Cek google reverse image search pada foto utama

Cek foto utama, apakah pernah dimuat di media lain, terutama di situs mainstream. Situs abal-abal biasanya mencari foto dari media lain yang sejenis.

Dalam verifikasi foto  perlu diperhatikan tanda-tanda khusus yang bisa diidentifikasi, seperti nama gedung, toko, plat nnomor kendaraan, bentuk bangunan, nama jalan, huruf-huruf yang menandakan bahasa, tugu atau monumen, dan bentuk jalan. Adapun beberapa tools yang bisa digunakan untuk memverifikasi foto, antara lain :

·         Reverse Image dari Google bisa digunakan untuk mencari unggahan foto pertama pada sebuah website. Tools ini juga bisa digunakan untuk menelusuri foto-foto yang diambil dari internet.

·         Reverse Image dari Yandex. Yandex merupakan sebuah search engine dari Rusia yang sangat bagus untuk penelusuran foto, terutama untuk eksplorasi situs-situs dari Eropa Timur.

·         Reverse Image dari Tineye yang bisa digunakan untuk penelusuran foto dengan kelebihan memiliki filter berdasarkan urutan waktu.

·         Alternatif tools lainnya adalah Bing.com milik Microsoft dan Baidu.

Ada dua langkah yang perlu dilakukan dalam memverifikasi video, yakni dengan menggunakan kata kunci di mesin pencari atau di media sosial berupa Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram. Kedua, memfragmentasi video menjadi gambar lalu menggunakan reverce image tools.

·         Ketika mendapatkan video di media sosial, tonton dan dengarkan video tersebut sampai habis. Cari petunjuk seperti bentuk bangunan, rambu-rambu jalan, plat nomor kendaraan, nama-nama jalan, nama-nama bangunan dan lainnya. Dengarkan audionya, terkait bahasa, dialek dan obrolan orang-orang yang ada di video.

·         Jika sudah menemukan petunjuk maka gunakanlah sebagai kata kunci. Salah satu contohnya, pada akhir Januari beredar video yang diklaim sebagai pasar hewan di Wuhan, yang dianggap sebagai asal usul menyebarnya virus Corona jenis baru.Terliat papan nama kantor dengan tulisan “Kantor Pasar Langowan”. Setelah ditelusuri di Google , Pasar Langowan ternyata terletak di Tomohon, Sulawesi Utara.

Cara berikutnya adalah dengan membuat video menjadi potongan gambar lalu ditelusuri dengan reverse image tools. Fragmentasi video bisa dilakukan dengan cara manual dengan screen capture atau menggunakan tool InVID. Tool ini memiliki keunggulan yakni memiliki fitur fragmentasi video dan reverse image tool sekaligus. Fragmentasi video bisa dilakukan dari seluruh tautan media sosial dan file lokal serta dilengkapi fitur lain seperti memeriksa metadata dan analisis forensik foto.

Setelah penjabaran di atas, diharapkan masyarakat bisa lebih bijak lagi dalam menanggapi sebuah informasi agar tidak mudah termakan isu atau hoaks. Penggunaan tools beserta cara penggunaannya diatas bisa dilakukan oleh siapa saja yang ingin melakukan akurasi data. Harapannya dengan cara ini arus informasi abal-abal bisa semakin berkurang dan masyarakat tidak hanya melek digital tapi juga melek literasi.

No comments:

Post a Comment

Sebelum Mencicipi Kematian : Tranformasi Budi Si Korban Bullying

Sebelum Mencicipi Kematian merupakan sebuah kisah yang diawali dengan adegan perundungan. Budi merupkan anak tunggal yang dominan mendapa...