Monday, 11 September 2017

The Perfect Twilight


Perasaanku semakin tidak menentu saat mendekati hari kepulangan Randu dari Jepang. Selama dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Namun hampir setiap hari, aku mendapatkan telepon atau sekedar pesan singkat dari pria bertubuh jangkung ini. Puti, sahabatku, mengenalkanku pada Randu. Aku bertemu Randu secara kebetulan menghadiri pesta pernikahan Puti. Tidak ada yang spesial, aku hanya menemukan teman yang mempunyai kesukaan sama, menikmati senja.

Terik matahari tidak menyurutkan niatku untuk menjemput Randu di bandara. Taksi yang aku tumpangi terasa lambat sekali jalannya. Kulempar pandangan keluar, tidak sedikit orang berebut jalan disana. Kendaraan roda dua yang memaksa melewati sela-sela mobil. Sengatan panas matahari yang menembus kulit membuat mereka tidak sabar menunggu antrian panjang lampu merah.

Ingatanku tak bergeser sedikit pun dari siluet wajah Randu. Menikmati senja dengan diam. Akulah yang mendominasi pembicaraan. Wajahnya yang dingin tidak banyak memberikan reaksi apa-apa. Hanya sesekali saja tertawa mendengar celotehanku. Memperlihatkan deretan giginya yang putih. Matanya yang hitam tiba-tiba bersinar.

"Aku akan berangkat ke Jepang dua hari lagi," ucapnya memecah keheningan.

Tenggorokanku tercekat mendengarnya. Matahari mulai menenggelamkan diri di ufuk barat. Angin mulai bertiup, menambah beku hatiku. Entah perasaan apa ini. Kutundukkan wajah untuk sekedar menutupi perasaanku. Ini baru pertemuan keduaku, aku tidak boleh terlalu tinggi berekpektasi.

"Kenapa melihatku seperti itu?"hardikku setelah sadar, ternyata Randu memperhatikan wajahku dalam hitungan menit.

"Aku ingin merekam wajahmu diotakku. Mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama, Gayatri."

Detak jantungku semakin cepat mendengar ucapan pria yang baru dua kali bertemu denganku ini. Tak sedetik pun berani kubalas tatapan matanya. Semakin ingin kusembunyikan mendung di hatiku.

Air mukanya begitu tenang. Entah apa maksud dari ucapannya itu. Meneduhkan sekaligus membuatku merasa kehilangan. Hari semakin gelap, pria berkulit putih ini mengajakku makan malam sebelum kami berpisah. Rasanya aku tak ingin membiarkannya pergi.

Aku duduk di salah satu bangku yang ada di ruang tunggu penjemputan. Hampir penuh. Orang-orang yang ada disitu melakukan apa saja untuk mengusir kejenuhan. Dua anak berlarian mengelilingi bangku. Mereka selalu punya cara sendiri untuk bahagia.

Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menyetujui permintaan Randu untuk menjemputnya. Selama ini tidak ada hal yang kami bicarakan mengenai perasaan. Hanya hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kami masing-masing. Masa depan yang sedang kami untai. Hubungan kami dengan orang-orang terdekat kami. Hanya itu.

Hari sudah menjelang sore saat kulihat pria yang menggendong tas ransel dan menenteng sebuah koper kecil. Senyumnya merekah saat keluar dari pintu kedatangan. Pandangan matanya menemukanku yang duduk di ruang tunggu paling depan. Berlari kecil menghampiriku seakan takut tidak bisa melihatku lagi. Tatapan mata itu masih sama seperti yang kurasakan dua tahun yang lalu.

"Ayo ikut aku," ajaknya sambil menggandeng tanganku tanpa meminta persetujuanku lebih dulu.

"Kita mau kemana?"

"Sudah ikut saja," ucapnya singkat.

Kenapa pria ini misterius sekali. Banyak hal yang disimpannya. Tanpa protes sedikit pun aku mengikuti langkah Randu. Tak banyak yang kami bicarakan selama berada di dalam taksi. Tanganku masih dalam genggamannya. Sesekali kuperhatikan wajahnya. Senyum tipis itu terus mengembang di bibir.

Taksi berhenti tepat di depan pintu gerbang Candi Boko. Hari sudah sore, namun masih banyak pengunjung yang belum pulang. Tempat ini memang mempunyai keunikan tersendiri dalam menyajikan senja. Aku duduk tepat ditempat, aku menghabiskan senja bersama Randu waktu itu. Seperti tidak ada jarak diantara kami.

Kehangatan kilau senja masuk sampai ke hatiku. Begitu hangat. Hatiku terasa meletup-letup. Masih kubiarkan genggaman tangan Randu yang tidak lepas dari tangan kiriku. Kurasakan aliran darah yang menuju ke otakku. Aroma parfum maskulin dari pria yang duduk disebelahku ini begitu kuat menusuk ke hidungku.

Matahari semakin turun ke arah barat, berubah menjadi semburat keemasan. Senja yang sempurna. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Hampir setiap orang yang ada disitu terpana dengan suguhan alam yang akan sulit dilupakan bagi yang beruntung bisa menikmatinya itu. Termasuk aku. How lucky I am?

Mataku tak lepas dari keindahan alam ciptaan Tuhan itu. Kurekam apik setiap detil apa yang ditangkap netraku. Aku tidak mau melewatkan, sinar yang mampu membuat jingga apa saja yang diterpanya. Ini hanya akan berlangsung dalam hitungan menit. Aku terlalu menikmati pikiranku sendiri dan tidak menyadari saat Randu sudah jongkok di depanku.

"Gayatri, kamu mau menikah denganku?" kalimat pendek ini mampu mengalihkan perhatianku.

Tak ada yang bisa keluar dari mulutku. Senja itu semakin terasa indah. Sempurna. Air mulai menggenang di kelopak mataku. Perlahan jatuh membasahi pipi. Sekian detik aku tak bisa memberikan reaksi apapun pada apa yang telah dikatakan Randu.

Masih banyak yang ingin kupertimbangkan. Keputusan yang akan merubah kehidupanku. Kulihat di depanku bukan pria sempurna seperti yang aku impikan selama ini. Tapi kehadirannya selalu mampu membuat pikiran dan hatiku hidup. Apakah aku mampu jika harus kehilangan semua yang telah mewarnai hidupku. Jika aku menemukan cinta pada pria yang kuanggap tidak sempurna maka akan kusempurnakan cintaku.

Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan. Air mata masih saja membasahi pipiku. Kini sudah tersemat cicin dijari manisku. Kulihat, tidak hanya mata Randu yang bersinar, wajahnya juga berseri. Kuseka pipiku yang basah. Aku tidak mau merayakannya dengan tidak berhenti menangis.

"Besok aku akan menemui orang tuamu. Satu tahun lagi aku akan lulus. Aku sudah sign kontrak dengan salah satu perusahaan disana. Kamu mau ikut aku ke Jepang?"

"Tentu saja," kueratkan genggaman tangan Randu. Kudengar dia menghela nafas lega. Senyumnya kembali merekah.

Kali ini Tuhan memberiku kesempatan untuk menikmati senja yang sangat sempurna.

16 comments:

  1. So, sweet!
    Happy for you both..... Gayatri and Randu..:)

    ReplyDelete
  2. Waw kayak ngerasa lagi bacanya novelnya Tere Liye 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh...masih belum ada apa-apanya mbak kl sama bang Tere

      Delete
  3. Makin cetarr nih mak.Gieska. btw, ini memg ciri mu ya mak tanpa paragraf?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya ada paragraf mbak. Nggak tahu kenapa hasil copas jadi begini

      Delete
  4. Whoaa.... so sweet deh.... kebayang gimana perasaan Gayatri waktu dilamar Randu.
    Mbaak ... tulisannya di edit yang rapih, dong...biar kita enak bacanya he he he

    ReplyDelete

Makanan Sehat untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

  Konsumsi makanan sehat sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau sering dipahami sebagai sistem kerja tubuh untuk melawan ...